Meng-Islamkan Hati

Tidak sedikit orang bertanya, sudah sekian lama menyatakan diri beragama Islam dan telah menjalankan shalat lima waktu, mengeluarkan zakat...

Tidak sedikit orang bertanya, sudah sekian lama menyatakan diri beragama Islam dan telah menjalankan shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan bahkan juga telah pergi haji, tetapi dirasakan masih sulit meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama, misalnya berbohong, belum peduli kepada sesama, seringkali masih marah yang tidak perlu, membenci orang sebagai hal biasa, dan seterusnya. Hal demikian itu kemudian dirasakan keber-Islamannya masih belum berdampak pada perilaku sehari-hari. Padahal, Rasulullah diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Maka pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang salah dari keberagamaan yang digambarkan seperti itu.


Ritual dijalankan tetapi larangan yang seharusnya ditinggalkan ternyata masih dikerjakan. Maka, terasa ada dua hal yang bersifat kontradiktif dikerjakan secara bersama-sama. Padahal dinyatakan bahwa, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ajaran zakat adalah mendekatkan antara orang berpunya dengan orang yang tidak berpunya. Berpuasa dimaksudkan adalah untuk melahirkan ketaqwaan, dan seterusnya. Kenyataan yang demikian itu menjadikan masyarakat beragama berwajah ganda. Mengerjakan aspek tertentu ajaran Islam, tetapi hal-hal lain yang seharusnya ditinggalkan tetapi masih saja dijalankan.

Kenyataan tersebut mengundang pertanyaan, yaitu misalnya, apa sebenarnya yang kurang tepat di dalam membangun sikap keberagamaan itu. Adakah sesuatu hal yang keliru. Membaca sejarah Nabi dan para sahabatnya, Islam terbangun secara utuh. Antara apa yang diucapkan, dijalankan, dan suara hati seseorang berhasil menyatu atau sama. Apa yang tergerak di dalam hati, maka itulah yang diucapkan, dan selanjutnya dijalankan. Ketika itu, seorang mukmin selalu meniru sifat Nabi, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Berbeda dengan apa yang biasa dilihat sekarang ini, bahwa mereka mengaku sebagai penganut Islam, tetapi perbuatannya masih tidak jauh beda dengan orang yang belum mengenal ajaran agama.

Persoalan tersebut sebenarnya bukan kecil dan atau sederhana. Hal demikian itu dirasakan oleh berbagai kalangan luas. Keluhan tentang adanya perbedaan antara suara hati, ucapan, dan juga perbuatan telah dirasakan di mana-mana. Bahkan sudah seringkali dilaporkan lewat hasil penelitian bahwa perilaku keber-Islaman bagi masyarakat bukan beragama Islam ternyata lebih unggul dibanding masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Penelitian dimaksud menggunakan indikator yang jelas disesuaikan dengan ajaran Islam. Membaca hasil penelitian itu tergambar ada suasana yang ironis, bahwa nilai-nilai mulia yang diajarkan oleh Islam ternyata belum sepenuhnya dijadikan acuan oleh pemeluk Islam sendiri.

Persoalan yang tidak mudah dijawab tersebut, masih ditambah lagi dengan adanya perilaku yang kontradiktif dengan nilai-nilai ajaran Islam, misalnya kekerasan, dan bahkan aksi terror yang ditengarahi bahwa pelakunya adalah seorang muslim. Kebingungan muncul karena selama itu dipahami bahwa Islam mengajarkan kasih sayang, toleransi, musyawarah, keharusan saling nasehat menasehati, dan seterusnya, namun pada kenyataannya dari kalangan Islam sendiri muncul kekerasan dan bahkan teror hingga mengakibatkan banyak korban manusia yang tidak berdosa. Maka, terasa ada paradog antara ajaran yang sedemikian mulia dengan perilaku yang terjadi di tengah masyarakat.

Persoalan tersebut kiranya bisa dijelaskan, bahwa siapapun tidak terkecuali pemeluk Islam, mereka tidak pernah hidup di ruang kosong. Sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya, seorang muslim berada di tengah masyarakat dengan berbagai macam pengaruhnya. Sehari-hari mereka bersentuhan dengan persoalan politik, ekonomi, hukum, budaya, seni, adat istiadat, dan lain-lain. Oleh karena itu tidak akan mungkin kehidupan terlepas dari pengaruh tersebut. Dalam menjalani kehidupan, siapapun selalu beradaptasi dengan lingkungan dan bahkan juga masyarakat luas. Itulah sebabnya, antara suara hati, ucapan, dan perilaku menjadi tidak selalu sama. Proses adaptasi itulah yang menjadikan seseorang tidak mudah menyatukan antara berbagai kekuatan yang ada pada dirinya sendiri.

Mendasarkan pada logika tersebut, maka bisa jadi, seseorang dilihat dari kehidupan sehari-hari sudah tampak religious, tetapi pada aspek-aspek mendasar lainnya justru jauh dari tuntutan agamanya. Mereka shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan bahkan berhaji, tetapi belum berhasil menjauhkan diri dari berbuat bohong, tidak peduli terhadap kehidupan orang yang seharusnya dibantu, kikir, sombong, hasut, dan lain-lain. Dengan demikian, ada suasana terbelah pada diri seseorang. Penampakannya religious namun sementara itu, hatinya masih jauh dari ajaran agama yang dianutnya.

Persoalan mendasar dan telah dirasakan oleh banyak orang di mana-mana tersebut sebenarnya harus dicari penjelasan dan atau penyebabnya. Penjelasan dari perspektif sosiologis, ekonomi, social, dan lain-lain, harus juga dilihat dari sudut yang lain. Bahwa suasana keterbelahan tersebut adalah sangat mungkin sebagai akibat dari pemahaman tentang Islam yang masih belum utuh dan atau komprehensif. Islam dikenali hanya dari aspek luar, bersifat formal, dan belum menyentuh aspek yang lebih dalam, Hal demikian itu menjadikan kegiatan ritual yang dijalankan sebenarnya bukan bersumber dari kekuatan penggerak yang semestinya, yaitu hati yang bersangkutan. Akibatnya, perilaku lahirnya, terutama dari kegiatan ritualnya, mereka sudah beragama, tetapi hati atau batinnya belum tersentuh. Padahal, agama seharusnya jutru berawal dari aspek terdalam, ialah apa yang ada di dalam hati. Maka meng-Islamkan batin atau hati, rasanya menjadi sangat penting dan mendasar. Wallahu a’lam.

Sumber : Prof. Imam Suprayogo

COMMENTS

Nama

#10HariBercerita,1,Audio,10,Daily Writing,19,Karya Tulis,17,Komik,4,Ramdhan,1,Renungan,12,Review,1,Video,11,
ltr
item
Tulisan SalmanSyuhada: Meng-Islamkan Hati
Meng-Islamkan Hati
https://2.bp.blogspot.com/-DiHuEspyxMA/VsWQcQzRwUI/AAAAAAAAATM/e8YS5w0vcPA/s640/meng-islamkan%2Bhati.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-DiHuEspyxMA/VsWQcQzRwUI/AAAAAAAAATM/e8YS5w0vcPA/s72-c/meng-islamkan%2Bhati.jpg
Tulisan SalmanSyuhada
http://tulisan.salmansyuhada.com/2016/02/meng-islamkan-hati.html
http://tulisan.salmansyuhada.com/
http://tulisan.salmansyuhada.com/
http://tulisan.salmansyuhada.com/2016/02/meng-islamkan-hati.html
true
1604219679755782996
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy